Edward Mushalli

sebuah dedikasi untuk bapak Drs. H. Edward Mushalli

3 Tersangka

TIM Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mengakhiri penyelidikan kasus dugaan korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2004 termasuk Dana Bagi hasil (DBH) Migas di Kabupaten Natuna, kemarin. Selanjutnya KPK akan menetapkan sekitar dua atau tiga orang menjadi tersangka begitu tiba di Jakarta.
Hal ini dikatakan Ketua Tim KPK Alexander Rubi, usai pemeriksaan di Mapolres Natuna, kemarin.

 

Menurut Rubi, dari 35 orang saksi yang diundang, hanya 26 orang yang memenuhi panggilan. Lima orang tak hadir termasuk mantan Bupati Natuna Hamid Rizal dan empat orang karena telah meninggal dunia.


”Setelah kita mintai keterangan para saksi-saksi, kami melihat ada indikasi kerugian negara sekitar Rp60 milliar. Itu semua dari APBD 2004 termasuk DBH Migas,”ujar Rubi


Masih kata Rubi, sesampainya di Jakarta nanti, timnya akan  mengumpulkan bukti-bukti, mengevaluasi kembali kemudian menentukan siapa saja yang maju ke tingkat penyidikan.


”Secepatnya akan kita umumkan siapa saja yang akan jadi tersangka. Saya melihat ada sekitar dua atau tiga orang yang akan kita tetapkan sebagai tersangka. Kalau kita umumkan sekarang terlalu prematur. Tunggu saja episode berikutnya. Sabar saja, yang jelas pasti ada tersangkanya,” kata Rubi berjanji.


Seperti sudah-sudah, begitu KPK menetapkan tersangka, sangat jarang dari mereka bisa lolos dari jeratan hukum. Semua tersangka KPK diadili dan akhirnya jadi terpidana. 


Sementara itu, suasana pemeriksaan kemarin oleh Tim KPK di Mapolres Natuna tidak seperti biasanya. Semua saksi diperiksa ulang (dikonfrontir) dengan menghadirkan semua saksi-saksi yang sudah diperiksa sebelumnya, di dalam satu ruangan berukuran kurang lebih 5×7 meter secara bersamaan. Kecuali mantan Ketua DPRD Natuna Daeng Rusnadi yang tak hadir. 


Seperti sedang mengadakan rapat, semua saksi berjejer menghadap ke delapan penyidik dari KPK yang diketuai Alexander Rubi dan beranggotakan 7 orang diantaranya, Nadya Pane, Yohanes Richard, Achmad Rifai, Haliem Suharsono, Sukma Candra, Novi Turangga dan Edy Hartoyo.


Tepat pukul 13.41 WIB, seluruh terperiksa ke luar ruangan secara bersamaan. Hanya Sekda Pemkab Natuna Ilyas Sabli dan mantan Kabag Keuangan Pemkab Natuna Subandi yang masih di dalam ruangan. Tak lama berselang, sekitar pukul 13.53 WIB Ilyas Sabli dan Subandi keluar ruangan berbarengan.


Saat ditanya wartawan, Ilyas Sabli mengatakan, kehadirannya bukan untuk dimintai keterangan melainkan mendampingi staf-stafnya dalam pemeriksaan lanjutan.


”Saya hanya dimintai keterangan pada hari pertama saja, selebihnya mendampingi staf-staf. Pemeriksaan ini semuanya terkait dengan kebocoran APBD tahun 2004. Alokasi dana pada APBD tersebut, saya hanya mengetahui Belanja Rutin dan Perjalanan Dinas. Untuk anggaran yang lainnya, itu langsung dikelola oleh kabag keuangan selaku odonatur,” kata Ilyas Sabli.


Di tempat sama, Subandi mengaku, semua keuangan yang masuk ke rekening kas daerah, dikelola oleh kabag keuangan. ”Sebagai kabag keuangan, saya hanya melayani permintaan saja, masalah aliran dana ke mana, saya tidak tahu. Itu sudah urusan bendahara,”ujarnya.


Subandi menambahkan, mekanisme pencairan dana melalui kas daerah semua atas usulan bendahara yang diketahui oleh Bupati.  ”Proses pencairan dana dari kas daerah yang pertama, harus ada Surat Keputusan otorisasi (SKO), kemudian setelah memenuhi persyaratan baru keluar Surat Perintah pembayaran (SPP). Dan yang terakhir setelah betul-betul lengkap persyaratannya baru keluar Surat Perintah Membayar Uang (SPMU). Selanjutnya saya tidak mengetahui, itu sudah urusan bendahara masing-masing,” pungkasnya.


Dari Jakarta, Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah membenarkan kalau tim KPK di Natuna tengah menyelidiki kasus dana bagi hasil (DBH) migas yang teridindikasi ada kebocoran. KPK terus berusaha memperlancar proses penyelidikannya.


 ”Benar kami memang sedang melakukan penyelidikan dana bagi hasil,” ujar Chandra kepada wartawan di KPK, Kamis (19/3). Hanya saja Wakil Ketua KPK bidang penindakan ini enggan merincikan proses penyelidikannya. Mantan pengacara ini hanya menyebutkan dugaan kerugian korupsi pada dana bagi hasil migas di Natuna itu.


Hal serupa juga diungkapkan Wakil Ketua KPK Haryono Umar. Penyelidikan KPK di Natuna, ujarnya, memang terkait dana bagi hasil migas. Namun demikian wakil ketua KPK bidang pencegahan ini tidak bersedia memberkan modus penggunaan dana bagi hasil yang diduga kuat telah terjadi penyimpangan. ”Sabar, ini masih penyelidikan,” kata Haryono sembari tersenyum.

 Gubkepri: Hamid Rizal Harus Mau Diperiksa

Upaya KPK mengusut dugaan korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2004 di lingkungan Pemerintah Kabupaten Natuna, disambut positif Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah. Gubkepri mengatakan siapa pun pejabat terkait yang akan diminta keterangan, harus mau memberi keterangan. Sehingga, proses hukum yang tengah berlangsung berjalan lancar.


Terkait pengusutan ikut melibatkan salah seorang staf ahlinya, Hamid Rizal, lagi-lagi orang nomor satu di Kepri ini mengatakan yang bersangkutan harus mau memberi keterangan. Namun, kenyataan di lapangan yang bersangkutan belum bisa diminta keterangan. Ismeth mengatakan yang bersangkutan melaporkan padanya bahwa saat ini tengah sakit.
 
”Alasan yang bersangkutan pada saya karena sakit. Sekdaprov juga telah melaporkan ke saya. Harapannya, sakitnya jangan terus-terusan. Proses hukum harus ditaati semua pejabat dan jangan sesekali mangkir jika dipanggil untuk diminta keterangan,’’ tutur Ismeth, Kamis (19/3). 


Harapan ini kata Ismeth juga diberlakukan pada semua kalangan pejabat lainnya. Proses hukum, semuanya harus mengikuti proses itu. Di mana pun juga, baik sebagai kepala daerah, kepala dinas, badan dan sebagainya.
 
”Di mana pun ia bertugas. Baik menjabat lurah, camat, kepala dinas, kepala inspeksi. Tidak boleh di luar ketentuan perundang-undangan yang berlaku,’’ terangnya. (cca/zek/ara)

 |Batam Pos, 20 Maret 2009

Filed under: Berita, , , , , , , ,

2 Responses

  1. Din Saban says:

    Siape pernah berbuat, make siap siap untuk menerima selaga konsekuensinya baik atau buruknye…
    Tuhan mahan melihat dan mahamengetahui, mungkin dimate manusie dapa ditipu tapi didak dimate tuhan….

    Saye sedih, karna anggapan banyak orang Natuna kalau tak ade Deng Natuna akan pincang… Sampai sampai Colon ketua DPRD pun nak ditunjuk Istrinya atau Deang Amhar ( adek Daeng )…..

    Apakah Kabupaten Natuna hanya punya Kerajaan Deang Rusnadi ….?

    Jangan lah kite mengikuti jejak jaman dulu bahwa kedatangan bugis ke Riau banyak jadi LANUN di laut…. dan didarat menjajah kerajaan Melayu…. haus akan jabatan, dan kekayaan….

    Cukuplah itu menjadi catatan sejarah,tak usah kita aplikasikan saat sekarang ini….Atau mungkin Anggota DPRD yang lain sudah tidak ada lagi yang mampu? ataupun bisa dibeli suaranya…. Karna Ketua DPRD merupakan wujud perwakilan semua masyarakat Natuna dalamsegala hal baik segi sosial budayadan kemasyarakatan.

    Mungkin juge Marwah Anak Melayu Natuna sudah dapat dibeli semue….

    Saya titipkan salam kepada Bapak untuk memberikan pendidikan politik yang jujur dan benar kepada masyarakat Natuna Umumnya khusunya yang di Tanjungpinang….

    Salam,

    • Edward Mushalli says:

      Terimaksih atas komentar dan sarannya. Hal yang telah sdr. Kamaruddin disebutkan di atas adalah tugas kita bersama, menjaga marwah masyarakat Kepulauan Riau sebagai tugas kita semua, tidak hanya untuk Kabupaten Natuna dan Kota Tanjungpinang saja, tetapi untuk masyarakat Kepulauan Riau (Melayu) pada umumnya. Pembangunan masyarakat yang berakhlak mulia adalah kewajiban semua pihak, tidak bisa di artikan tanggung jawab pemerintah saja, peran serta masyarakat juga sangat diperlukan. Perbaikan Sumberdaya masyarakat dan birokrasinya mutlak digesa agar terwujud masyarakat yang sejahtera.

      Salam Takzim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: