Edward Mushalli

sebuah dedikasi untuk bapak Drs. H. Edward Mushalli

Batam, Nongsa & Raja Isa

Pulau Batam

Pulau Batam

Kemunculannya sangat istimewa. Seratus Delapanpuluh tahun bak karam di palung laut terdalam, kini mengambang lagi, berwujud kapal pesiar mewah yang mengangkut banyak orang melayari rute-rute laut terganas sekalipun.

Selamat Ulang Tahun ‘sesungguhnya’ untuk Kota Batam yang kami banggakan. Raja Isa, sang mantan nakhoda kapal karam itu pasti bahagia sebagaimana kami bersukacita. Jejaknya sebagai nakhoda senior sudah diakui, kendati ABK-nya tak ramai dan kapal yang dikemudikannya dulu tak segagah dan sekokoh hari ini.

Tanpa Raja Isa, rute yang kami lewati hari ini tak akan seriuh sekarang. Mungkin saja rute itu baru ditemukan era 80-an, 90-an bahkan jauh diatas masa-masa itu. Artinya, perkembangannya pun, bisa lebih lambat puluhan tahun dari hari ini. Karena penemu rute tersebut lahir jauh setelah tahun 1829; tahun dimana Raja Isa ‘membuka’ kampong baru, yang bernama Nongsa, yang kini kita kenal dengan nama Batam.

Terimakasih Raja Isa. Mungkin tak ada ada nama Batam dipeta Indonesia, Jika anda tak berpijak dan bertapak dipulau berbentuk kalajengking itu, karena pulau itu tak berpenghuni hingga hari ini dan tak akan dilirik oleh Singapura Johor Riau atau Baharudin Jusuf Habibie sekalipun.

Pujian juga kami sampaikan kepada Pemko Batam, DPRD Batam, Lembaga Adat Melayu Batam serta seluruh pihak dan jajaran terkait lainnya yang mampu menghasilkan keputusan 18 Desember 1829 adalah hari lahir Kota Batam. Sungguh keputusan yang membutuhkan banyak energi dan waktu yang tercurah. Dari pengumpulan data historis serta proses menyatukan ide dan konsep. Tahniah!

Efek lain dari keputusan ini adalah euphoria masyarakat Melayu. Putusan ini memperkuat rasa percaya diri karena dapat menepis pernyataan ‘tak ada orang Batam asli’. Kegembiraan yang dapat lebih mempererat dan memperkuat ikatan batin Melayu, yang selama ini merasa terpinggirkan; yang hanya disebut ‘hinterland’. Euphoria yang memiliki dua sisi yang sama-sama tajam.

Sisi pertama dapat berdampak negatif karena menciptakan fanatisme sempit tentang makna kemelayuan itu sendiri. Sedangkan sisi satunya, sebaliknya. Dengan modal percaya diri yang tinggi tadi, dapat berperan lebih aktif, mengayomi dan merangkul semua elemen untuk membangun Batam yang kita banggakan.

Filed under: Berita, Opini, Pernyataan, , , , , , , , , , , , , , , , ,

3 Responses

  1. atan muda says:

    setuju encik Edward…
    Melayu sebagai anak tempatan harus mengayomi semue. Jangan orang masuk terus, Melayu tak pernah dilibatkan. Saye bukannya rasis. Tapi itu kenyataannye di Kepri sekarang ini.
    Tingkatkan kualitas diri kite encik-encik dan puan-puan. Biar bermarwah di tanah sendiri..

  2. Hang Tuah says:

    ——Tak kan Hilang Melayu di Bumi——–

  3. 007 says:

    Aku ikut bicara ya bang. . . . .

    Sekarang jamannya globalisasi…
    Siapa yang unggul dia yang maju. kan gitu?
    Untuk seluruh Indonesia-lah, buka cuma utk orang Kepri atau Batam. Utamakan kualitas, kuantitas nanti dulu bung…..
    Bukannya aku tak setuju efek dari otda ini. Tapi jangan sampai masalah ini, memandulkan kualitas kita sebagai anak bangsa Indonesia. Yang harus diperhatikan, dimana kita berada, disitu adatistiadat lokal kita hargai dan junjung tinggi bersama-sama. Iya kan?
    Buat bang edward, banyakin lah bang komennya di blog. Jangan cuma berita aja… Semoga sehat selalu bang….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: