Edward Mushalli

sebuah dedikasi untuk bapak Drs. H. Edward Mushalli

Siap-siap Sambut Jendela Peluang Kepri

Masa keemasan bagi Kepri sudah ada di depan mata. Kepri ditetapkan sebagai kawasan FTZ, lain itu, pada tahun 2020 atau sembilan tahun lagi dari sekarang diperkirakan Indonesia secara umum akan memasuki era jendela peluang. Sebuah era dimana jumlah penduduk usia tenaga kerja lebih banyak daripada usia tidak bekerja.

Usia anak-anak dan manula (manusia lanjut usia) jauh lebih sedikit. “Artinya, masa itu diperkirakan tiga orang tenaga kerja hanya menanggung satu orang tidak bekerja,” jelas Ipin ZA Husni, Kepala Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kepri.

China dan India bisa bejaya mendongkrak pertumbuhan ekonominya seperti saat ini karena mereka sedang menikmati era jendela peluang ini. Sebuah era dimana sebuah negara diisi oleh gegap gempita tenaga muda untuk berkarya.

Menurut Ipin, masa jendela peluang atau dalam ilmu demografi disebut Bonus Demografi ini, hanya terjadi satu kali dalam sejarah sebuah bangsa. Jendela Peluang terjadi selama 10 tahun. ”Ia tidak akan datang lagi, untuk itu kita harus memanfaatkan sebaik mungkin,” ujar Ipin serius.

Bagaimana jika kita meloloskan peluang tersebut, maka yang terjadi ialah jendela bencana. ”Sebab saat itu usia kerja sangat banyak. Sementara mereka tidak tertampung di lapangan kerja, jelas akan terjadi banyak pengangguran,” beber Ipin.

Pengangguran akan menambah beban sosial Kepri. Kemiskinan akan bertambah, kriminalitas dan kerawanan sosial meningkat dan sebagainya.

Jendela Peluang akan datang sembilan tahun lagi. Maka persiapan yang harus dilakukan saat ini ialah membekali anak-anak Kepri dengan pendidikan dan ketrampilan yang mumpuni sehingga mereka bisa bersaing di pasar tenaga kerja.

Putra-putri Kepri tidak hanya bersaing dengan sesama anak Kepri, mereka bersaing dengan anak-anak lain dari kawasan lain Indonesia. Tidak hanya itu, di era global seperti saat ini persaingan tenaga kerja pun terjadi dengan warga negara asing. Warga India, Srilanka, Philipina dan lainnya berbondong ke Indonesia berbekal keterampilan kemampuan berbahasa Inggris.

Fenomena ini saat ini telah terjadi. Dengan tidak mengharap gaji berlebih mereka mau datang kemari, ke Kepri.

”Saya pikir tidak ada jalan lain selain membekali putra-putri kita dengan ketrampilan yang pas dengan lapangan kerja yang ada,” tegas Ipin. Upaya ini jelas menyelamatkan masa depan anak-anak Kepri menyongsong masa depan gemilang. Bukan hanya itu, dari sisi kependudukan pun membantu Kepri dari pertumbuhan penduduk yang tak terkendali terlebih dari arus migrasi.

”Dengan putra-putri Kepri terserap di pasar tenaga kerja di bumi sendiri maka industri tidak perlu jauh-jauh merekrut orang,” papar Ipin. Ujungnya, jelas, pertumbuhan penduduk Kepri dapat lebih terkendali.

Pemerintah akan sangat leluasa mengatur daerah, tidak lagi terlalu disibukkan dengan penyediaan berbagai fasilitas yang diakibatkan jumlah penduduk yang semakin membesar tanpa terkendali.

Jendela Peluang dan Laju Penduduk

Jendela Peluang itu sembilan tahun lagi. Tidak banyak waktu lagi. Untuk mengukur sejauh mana kita mendapatkan Jendela Peluang itu, maka perlulah dicermati secepat apa laju penduduk di Kepri.

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, penduduk Kepri mencapai 1.685.698 jiwa. 864.333 di antaranya ialah pria dan sisanya atau 821.365, wanita. Laju pertumbuhan penduduk Kepri mencapai 4,99 persen per tahun, terbesar kedua di Indonesia setelah Papua.

Arus migrasi dari kota lain di tanah air ke Kepri menjadi salah satu motor pemicu laju pertumbuhan penduduk. Mereka yang bermigrasi ke Kepri ialah usia muda. Saat datang bisa jadi belum menikah tetapi beberapa tahun kemudian mereka menikah dan memiliki keturunan. Semakin besarlah jumlah penduduk Kepri.

Dari semua kota/kabupaten di Kepri, Kota Batam memiliki laju pertumbuhan penduduk tertinggi, dalam 10 tahun terakhir pertumbuhan penduduk di Batam 7,70 persen per tahun. Jumlah penduduk Batam berdasar Sensus Penduduk 2010 sebanyak 949.775 orang, 10 tahun sebelumnya hanya mencapai 455.103 orang.

Sementara jumlah penduduk di Kota Tanjungpinang, tahun 2010 sebanyak 187.687 dengan laju pertumbuhan penduduk 2,79 persen per tahun. Rata-rata pertumbuhan penduduk di kota/kabupaten lain di Kepri tidak lebih dari 3 persen.

Lihatlah jumlah penduduk Kabupaten Karimun sejumlah 212.812 jiwa. Artinya laju pertumbuhan penduduk 2,21 persen per tahun. Kabupaten Kepulauan Anambas kini tercatat berpenduduk 37.493 orang dengan laju pertumbuhan penduduk 2,80 persen per tahun.

Jumlah penduduk Natuna sedikit di atas Anambas yakni sebanyak 69.319 orang yang mana laju pertumbuhan penduduknya 2,79 persen.

Kabupaten Bintan yang menjadi salah satu kawasan perdagangan bebasas (FTZ) berpenduduk sebanyak 142.382 orang dengan laju pertumbuhan 2,63 persen per tahun.

Hanya kabupaten Lingga yang memiliki laju pertumbuhan penduduk di bawah 1 persen. Yaitu Cuma 0,83 persen. Di tahun 2010 penduduk Lingga sebanyak 86,230 persen.

Adalah wajar jika Batam paling padat penduduknya (56,34 persen) dibandingkan kabupaten/kota lain di Kepri. Sebab Batam ialah kawasan industri. Ada 26 kawasan industri dan ratusan pabrik di dalamnya berdiri di Batam. Kota Batam dengan luas 1.570,35 kilometer persegi disiapkan sebagai kawasan industri untuk mendapatkan limpahan dari Singapura yang hanya berjarak 20 kilometer dari Batam. Batam pun berkembang pesat. Jumlah pendudukpun ikut melesat.

Batam, Bintan dan Karimun disiapkan oleh pemerintah sebagai kawasan perdagangan bebas atau FTZ (free trade zone). Sebuah kawasan berbasis industri yang kelak diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan perbatasan ini. Kawasan seperti ini ada di beberapa negara tetangga. Maka menjadi tugas Kepri untuk bersaing memberikan layanan terbaik kepada para calon investor. Pelayanan terbaik bisa diberikan dengan menggunakan teknologi informasi yang canggih sehingga tempo layanan bisa dipercepat. Di balik pelaksanaan pelayanan itu harus ada manusia alias tenaga kerja yang mumpuni sehingga semua sistem yang dibangun bisa memberikan layanan terbaik.

Dari kacamata kependudukan, FTZ ialah peluang sekaligus tantangan. Sebagai kawasan FTZ maka penduduk Kepri tak perlu repot bermigrasi sebab di sini akan ada kawasan industri strategis yang bisa memberikan lapangan kerja. Tantangannya ialah kawasan industri senantiasa melambaikan tangan kepada tenaga kerja dari daerah lain untuk kemari. Contohnya telah terjadi di Batam.

Untuk mencegah arus migrasi lebih cepat datang tidak ada jalan lain, tenaga kerja di Kepri harus diambil dari putra-putri Kepri. Hal ini tidak mudah sebab tidak bisa Kepri menutup diri dari arus migrasi dari kawasan lain di tanah air. Oleh karenanya penduduk Kepri khususnya anak-anak Kepri harus memiliki standar kompetensi yang tidak kalah dari anak-anak Indonesia lain bahkan bila dibandingkan dengan anak-anak asing. Kelak anak-anak Kepri bisa pula mengisi peluang di kawasan lain di tanah air. (atm)

sumber: batampos.co.id

Filed under: Berita, , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: