Edward Mushalli

sebuah dedikasi untuk bapak Drs. H. Edward Mushalli

Warga Kecamatan Jemaja Butuh Pelayanan Bank

Kehadiran Bank Indonesia dalam kegiatan Layanan Kas, Sosialisasi Keaslian Uang Rupiah dan Penelitian di Wilayah Kabupaten Anambas dan Natuna, dimanfaatkan masyarakat Pulau Letong Kecamatan Jemaja untuk mendesak pemerintah mendirikan fasilitas dan pelayanan. Keinginan warga disampaikan di hari pertama sosialisasi tim BI dan TNI AL yang berkunjung ke Pulau Letong Jemaja.

Kebutuhan pelayanan perbankan dinilai penting, ketika warga usai melaksanakan transaksi jual beli, kebingunan menyimpan dimana uang yang mereka miliki.

“Harapan kami selama ini hanya pelayanan kantor pos. Tapi, sejak empat bulan lalu, pelayanan kantor pos tutup. Kami tidak tahu apa masalahnya. Kondisi ini sangat mempersulit warga untuk melakukan transaksi keuangan dengan anak yang sekolah di Sumatera dan relasi di sejumlah pulau di luar Jemaja. Ditambah, hasil transaksi jual beli kebun dan perikanan dengan nilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, terpaksa di simpan di bawah bantal. Oleh itu, kami meminta ada pelayanan perbankan, di Jemaja ini, apakah itu pelayanan tingkat kantor kas atau lebih kecil lagi,”ujar Umri Syafaat, Selasa (19/7) di Aula Pertemuan Kecematan Jemaja, Kabupaten Anambas.

Panjang lebar Umri menceritakan keluhan atas tidak adanya pelayanan perbankan di Jemaja. Umri yang memiliki untuk menyimpan hasil transaksi produksi pertanian dan hampir 2 hektar perkebunan pisang, mangaku kebunnya dapat memproduksi hasil pisang dalam waktu panen mencapai dua ton. Nilai transaksi mencapai jutaan rupiah.

“Tidak saja usaha perkebunan pisang, keluhan serupa juga dialami oleh teman-teman pedangan kopra dan ikan kering. Semua hasil produksi biasa dikirim ke Pulau Tarempa, atau dikirim ke Natuna. Kondisi ini tentu akan riskan terutama keamanan dalam membawa pulang uang hasil jualan. Bahkan, beberapa waktu lalu, teman pengusaha kelontong dirampok di tengah laut. Oleh itu, kami merasa takut, dan harapan besar itu ada ketika rombongan Bank Indonesia dan TNI AL datang ke Jemaja,”ujar Umri lagi.

Desakan yang sama juga diungkap oleh Arifin Jana (60) tokoh masyarakat Jemaja. Menurut Arifin, pentingnya pelayanan perbankan saat ini sangat dibutuhkan anak-anak yang tengah merantau menuntut ilmu.

“Saya punya anak sedang sekolah di Batam dan di Tanjungpinang. Saya binggung mau kirim uang sekolah dan belanja kebutuhan hidup, ketika uang mereka habis. Uang ada, tapi bagaimana cara mengirimkan ke mereka. Terpaksa, saya janji dan harus minta tolong ke warga yang berangkat ke Kota Tanjungpinang. Jadi, kami harap rombongan dari BI bisa merealisasikan secepatnya,”ujar Arifin lagi.

Keingingan untuk kehadiran perbankan di Jemaja, juga didukung penuh oleh pihak kecamatan dan unsur muspida di Jemaja. Menurut, Supryandi Sekretaris Camat Jemaja, untuk merealisasikan kebutuhan pelayanan perbankan, pihak kecamatan telah berkoordinasi dengan sejumlah warga pemilik rumah, untuk menyediakan kantor pelayanan yang diinginkan.

“Untuk kantor kami telah koordinasi dengan warga, dan mereka bersedia. Sekarang tinggal perbankan apa yang dibisa direkomendasikan pihak BI,”ujar Supriyadi.

Uang Lusuh Capai Rp 75 Juta

Menanggapi permintaan ini, Hasiholan Siahaan, Biro Pengedaran Uang Bank Indonesia Jakarta menjadikan permintaan masyarakat ini masukan berharga bagi perbankan di daerah Kepri.

“Kita akan sampaikan ini ke perbankan yang ada di Kepri. Semoga saja Bank BNI yang hadir dalam rombongan bisa memanfaatkannya. Atau pihak bank daerah yang bisa memanfaatkannya,”ujar Hasiholan

Dijelaskan Hasiholan, kedatangan rombongan BNI yang didampingi TNI AL sebagai peran untuk mensosialisasi keberdaan uang rupiah di daerah pulau terluar di Indonesia.

“Selama perjalan ini, tim membawa uang berbagai jenis pecahan hampir Rp 3 miliar. Mulai dari pecahan terkecil hingga terbesar. Sasarannya, kita melayani warga pulau yang memegang uang lusuh, rusak dan tidak laku, agar ditukar dengan uang baru yang masih beredar. Hasilnya, untuk penukaran uang lusuh di hari pertama mencapai Rp 75 juta dari 48 warga yang menukar,”ujar Hasiholan lagi.

Sementara itu, Yufinaldi perwakilan BNI Wilayah Padang menjelaskan kesiapan membuka kantor pelayanan sangat tergantung dengan ketersedian listrik.

“Kita lihat, di Jemaja pasokan listrik hanya malam hari, siang tidak ada. Itu juga menjadi pertimbangan kami untuk membuka nantinya di Jemaja,”ujar Yufinaldi singkat.
Sumber: batam.tribunnews.com

Filed under: Berita, , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: