Edward Mushalli

sebuah dedikasi untuk bapak Drs. H. Edward Mushalli

Nasionalisme Setengah Hati: Sebuah Catatan

ADA yang menarik dari pertandingan penyisihan grup cabang sepak bola SEA Games 2011 antara Kamboja dan Malaysia (13/11). Saat itu seluruh pendukung merah putih mendukung Kamboja dan meneriakkan ejekan pada Malaysia.

Dampaknya jelas, beberapa pemain Kamboja berani melakukan penetrasi berbahaya dan berani berduel dengan tim yang notabene jauh lebih dari mereka. Walaupun skor berakhir dengan kemenangan 4-1 untuk Malaysia, tetap saja ada sesuatu yang dirasakan oleh timnas U-23 Malaysia.

Malaysia boleh saja berkelit tidak terpengaruh oleh teriakan tersebut, tetapi tayangan televisi memperlihatkan dengan jelas kecemasan Malaysia hingga harus mendapatkan pengawalan khusus. Siapa yang masih sanggup berdiri di tengah cercaan puluhan ribu orang yang jelas-jelas membenci mereka?

***

Hal yang sama terulang kembali dalam partai final yang kembali mempertemukan Indonesia dan Malaysia (21/11). Walaupun pada akhirnya drama tidak berakhir layaknya putri dan pangeran, semangat para punggawa Indonesia sangat pantas diacungi jempol. Meski harus mengakui kualitas lawan dan wasit lebih superior–bayangkan, dua gol dianulir karena offside!

Dengan mengabaikan segala kontroversi, ada sesuatu yang muncul dari laga tersebut. Sesuatu yang sangat jarang kita temukan saat ini, di mana kapitalisme mulai merasuki seisi negeri: nasionalisme.

Berbicara tentang nasionalisme tentu bukan hal asing, mengingat para founding father negeri ini telah menunjukkannya pada kita jauh-jauh hari. Tak perlu ditanya perjuangan para tokoh seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dan lainnya dalam perjuangan fisik dan diplomatik kedaulatan Indonesia. Ditambah dengan perjuangan putra-putri Indonesia dalam berbagai bidang, sejarah seakan menegaskan entitas dirinya sebagai sesuatu yang berulang dan terlihat saat perhelatan Piala AFF dan SEA Games 2011.

Effendi Ghazali dalam helatan Piala AFF tahun 2010 lalu mengungkapkan tentang penyebab bersatunya semangat rakyat. Pertama, karena adanya peperangan. Kedua, karena adanya bencana. Dan ketiga, karena adanya prestasi, terlebih lagi jika kondisi negara yang bersangkutan tengah seret. Wajar jika Effendi Ghazali mengecam keras para elit yang mencoba mempolitisasi hal tersebut.

Kegeraman Ghazali tentu bukan opini pribadi. Seluruh rakyat Indonesia juga merasakan hal yang sama. Saat prestasi bangsa hanya berkutat pada korupsi dan indeks negara gagal, muncul sesuatu yang mampu membawa nama Indonesia pada tingkat yang lebih baik, walaupun dalam tingkatan yang paling kecil. Secara tidak sadar, hal tersebut justru meningkatkan semangat nasionalisme yang mulai luntur diterpa zaman. Sangat berbeda ketika presiden dan para pemuka agama mengimbau persatuan bangsa.

Kembali pada final cabang sepakbola SEA Games 2011 kemarin malam. Jika kita berpikir secara jernih, satu medali sepakbola sesungguhnya tidak berarti ketimbang belasan medali atletik yang telah kita menangkan. Namun, ketika telah bersinggungan dengan sesuatu yang–menurut pandangan sebagian besar orang–bertanggung jawab atas lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan, kisruh Ambalat, dan Reog Ponorogo, harga pertandingan tersebut bukan lagi sebuah medali. Ia menyangkut refleksi positif rakyat Indonesia yang geram akibat tidak tegasnya sikap pemerintah akan kedaulatan bangsanya, walaupun hal tersebut bisa mencoreng citra Indonesia sendiri dalam berbagai bidang.

Tak bisa dimungkiri, terdapat suatu arus dukungan yang bersifat masif saat perhelatan pertandingan tersebut. Sesuatu yang mampu menyatukan rakyat Indonesia yang sempat terpecah akibat berbagai kepentingan. Akan tetapi, perlu dicatat, apakah semangat nasionalisme tersebut telah “disetir” ke arah yang benar atau justru berdampak buruk bagi Indonesia itu sendiri?

***

Harian berpengaruh di Malaysia, The Star, memuat opini salah seorang warga Malaysia yang kecewa atas ulah para suporter dan panitia di Indonesia. Disebutkan bagaimana perlakuan berbeda terhadap atlet, ofisial, dan atribut kebangsaan Malaysia oleh beberapa oknum pelaksana SEA Games.

Lebih jauh, dia memberikan statement menusuk dengan membandingkan perolehan medali Indonesia-Malaysia dan cemoohan para suporter setiap kali mereka bertanding. Hal ini jelas mencoreng citra Indonesia sebagai penyelenggara dan bisa jadi berdampak buruk pada hubungan politik, ekonomi, dan sosial, bukan hanya pada Malaysia, tetapi juga negara-negara ASEAN.

Tentu tidak perlu membawa perang atau bencana di tanah permai ini, dan tidak ada satu pun yang menginginkannya. Rivalitas antara kedua negara tidak seharusnya membawa perpecahan pada hubungan antara keduanya, karena akan menodai makna SEA Games kali ini, united and rising.

Semua pihak harusnya malu ketika melihat kiper Vietnam berusaha bangkit walaupun mengalami cidera parah pada lehernya dan tetap berusaha bermain di tengah hujan. Bukan dengan berteriak, memaki, atau mencari kambing hitam atas cidera yang dideritanya.

Semangat bela negara seperti itulah yang patut diapresiasi. Setidaknya, Gelora Bung Karno dan Jakabaring telah banyak mengajarkan kita bahwa sepakbola dan SEA Games mampu menyatukan elemen-elemen bangsa, bahkan yang sedang bertikai sekalipun. Namun, akan jauh lebih baik jika semangat patriotisme yang telah ditunjukkan para suporter dan punggawa timnas tetap tertanam di sanubari dan diarahkan pada hal-hal lain yang lebih positif, bukan hanya sekadar nasionalisme setengah hari yang berakhir ketika rangkaian pesta selesai. Semoga.

Arief Kurniawan Jamal
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia

Filed under: Opini, Pernyataan, , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: